Praktek Lobotomi di Dunia Kedokter

Kapan Pertama Kali Praktek Lobotomi di Dunia Kedokteran Dilakukan?

Lobotomi, sebuah prosedur bedah saraf yang melibatkan pemutusan koneksi di lobus prefrontal otak, pernah menjadi pengobatan yang populer untuk berbagai penyakit mental. Meskipun sekarang dianggap tidak etis dan berbahaya, lobotomi dipraktikkan secara luas selama beberapa dekade di abad ke-20.

Awal Mula Lobotomi

Konsep lobotomi pertama kali muncul pada awal 1900-an. Ide awal muncul dari observasi bahwa kerusakan pada lobus frontal pada beberapa pasien tampaknya memiliki efek positif pada gejala mental mereka. Pada tahun 1935, dua dokter Portugis, Egas Moniz dan Almeida Lima, melakukan lobotomi pertama pada manusia untuk mengobati seorang wanita dengan depresi kronis. Prosedur mereka melibatkan pengeboran lubang di tengkorak dan menyuntikkan etanol ke dalam lobus frontal.

Perkembangan Teknik Lobotomi

Teknik lobotomi terus berkembang selama beberapa tahun berikutnya. Pada tahun 1945, seorang dokter Amerika bernama Walter Freeman mengembangkan teknik lobotomi transorbital, yang melibatkan penyisipan alat tajam melalui rongga mata untuk mencapai lobus frontal. Teknik Freeman ini lebih cepat dan mudah dilakukan, dan menjadi metode lobotomi yang paling umum digunakan.

Popularitas lobotomi transorbital Freeman melonjak karena beberapa alasan. Pertama, prosedur ini bisa dilakukan di ruang kantor dokter, tanpa perlu operasi rumit di rumah sakit. Kedua, Freeman gemar mempromosikan lobotomi sebagai pengobatan mujarab untuk berbagai penyakit mental, dan dia bahkan melakukan demonstrasi prosedurnya di depan umum.

Puncak Popularitas dan Dampaknya

Pada tahun 1940-an dan 1950-an, lobotomi menjadi sangat populer di seluruh dunia. Diperkirakan ada hingga 200.000 lobotomi yang dilakukan di Amerika Serikat saja. Prosedur ini dipromosikan sebagai pengobatan untuk berbagai penyakit mental, termasuk skizofrenia, depresi, kecemasan, dan bahkan gangguan kepribadian.

Meskipun lobotomi digembar-gemborkan sebagai solusi bagi masalah kesehatan mental yang kompleks, kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak pasien mengalami efek samping yang parah, termasuk kejang, kelumpuhan, perubahan kepribadian, dan bahkan kematian. Dampak lobotomi pada beberapa pasien bisa sangat tragis, seperti Rosemary Kennedy, adik perempuan Presiden John F. Kennedy, yang mengalami lobotomi pada usia 20 tahun dan mengalami cacat mental permanen.

Penurunan Popularitas dan Pelarangan Lobotomi

Kekhawatiran tentang efek samping lobotomi mulai meningkat pada akhir 1950-an. Dengan kemunculan obat-obatan antipsikotik yang efektif, seperti klorpromazin, lobotomi menjadi semakin jarang dilakukan. Pada tahun 1967, American Psychiatric Association secara resmi merekomendasikan agar lobotomi tidak lagi digunakan.

Lobotomi sekarang dilarang di sebagian besar negara. Meskipun demikian, prosedur ini masih menjadi bagian yang kontroversial dalam sejarah kedokteran, dan menjadi pengingat bahaya dari pengobatan yang tidak didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat.

Kasus Terkenal dan Dampak Jangka Panjang

Kasus Rosemary Kennedy, adik perempuan Presiden John F. Kennedy, adalah salah satu contoh paling terkenal dari efek tragis lobotomi. Rosemary mengalami lobotomi pada usia 20 tahun untuk mengobati kemurungan dan perubahan suasana hati. Prosedur ini membuatnya cacat mental permanen, dan dia menghabiskan sisa hidupnya di institusi.

Kasus Rosemary Kennedy membantu meningkatkan kesadaran akan bahaya lobotomi dan berkontribusi pada penurunan popularitasnya. Kisahnya juga menjadi pengingat penting tentang pentingnya memperlakukan orang dengan penyakit mental dengan hormat dan bermartabat.

Penutup

Lobotomi adalah bagian yang kelam dalam sejarah kedokteran. Meskipun awalnya digembar-gemborkan sebagai pengobatan mujarab untuk penyakit mental, lobotomi terbukti memiliki efek samping yang parah dan sering kali fatal. Kemunculan obat-obatan antipsikotik dan kesadaran yang meningkat akan bahaya lobotomi akhirnya menyebabkan pelarangan prosedur ini. Kasus seperti Rosemary Kennedy berfungsi sebagai pengingat penting akan pentingnya memperlakukan orang dengan penyakit mental dengan belas kasih dan menggunakan metode pengobatan yang didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat.